Industri Daur Ulang Beri Nilai Tambah Limbah Plastik

Image
Petugas UPK Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta beraktivitas di posko yang terbuat dari tumpukan botol plastik bekas, di kawasan Pasar Rebo, Jakarta, Rabu (13/3/2019). Pemanfaatan sampah botol plastik untuk membangun posko tersebut dilakukan Petugas UPK Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta atas kesadaran untuk menjaga lingkungan agar bersih dari sampah plastik. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

 Berita Layak - Pengembangan industri daur ulang plastik dinilai menjadi salah satu jalan untuk mendukung pasokan bahan baku industri sebagai substitusi produk impor yang selama ini menjadi beban pengusaha karena sensitif terhadap pelemahan nilai tukar rupiah.

Beberapa sektor industri, seperti tekstil, menuntut pemerintah untuk mengembangkan industri hulu di dalam negeri agar tidak terus bergantung pada bahan baku impor.

Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), menjelaskan industri tekstil sedang berada di persimpangan jalan karena harga bahan baku impor yang terus meningkat.

Dia menuturkan, industri daur ulang plastk bisa menjadi solusi jangka pendek karena dapat menyuplai bahan baku tekstil secara perlahan, untuk bergerak mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku.

Ariana Susanti, Business Development Director Indonesian Packaging Federation (IPF), menjelaskan jumlah sampah plastik yang besar di Indonesia dapat dimanfaatkan apabila ada sistem pengolahan sampah yang baik.

Menurutnya, saat ini regulasi pengolahan sampah sudah ada, tetapi pelaksanaannya masih jauh dari sempurna. Dengan adanya industri daur ulang plastik dan regulasi yang mendukung, persoalan sampah plastik dapat diselesaikan dengan baik.

Mengacu pada data Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), konsumsi plastik di Indonesia mencapai 5,6 juta ton. Dari keseluruhan jumlah tersebut, konsumsi plastik daur ulang mencapai 1 juta ton dan sisanya merupakan plastik dari bahan baku nafta. Sebanyak 190.000 ton plastik yang dikonsumsi tidak tertangani dan berakhir menjadi polusi.

 Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong peningkatan nilai tambah terhadap limbah plastik dan kertas melalui peran industri daur ulang (recycle industry).

Upaya ini dilakukan untuk mengurangi impor bahan baku berupa plastik dan kertas, yang kebutuhannya masih sangat tinggi bagi penopang proses poduksi berbagai sektor industri di Tanah Air.

Menperin pun menyampaikan, untuk memenuhi kebutuhan bahan baku plastik, diperlukan  industri. petrokimia Namun, dalam membangun fasilitas tersebut, bakal memakan waktu cukup lama. Paling, tidak setelah peletakan batu pertama, dibutuhkan tiga tahun untuk pabrik itu bisa berproduksi.

“Sehingga, guna mencari solusi dalam waktu dekat, agar kita bisa mengurangi impor ini, didorong melalui recycle industry. Dan, industri ini investasinya jauh lebih murah,” jelasnya.

Seiring upaya strategis tersebut, Kemenperin juga aktif memacu tumbuhnya industri petrokimia di dalam negeri.

Hingga saat ini, sudah ada tiga perusahaan yang berinvestasi dalam pengembangan sektor industri petrokimia di Indonesia, yaitu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk., Lotte Chemical Titan, dan Siam Cement Group (SCG).

“Mereka akan memproduksi kebutuhan bahan baku kimia berbasis nafta cracker di dalam negeri. Sehingga nanti kita tidak perlu lagi impor," tegasnya.

Sumber:Akurat.co / Bisnis.com

Komentar