![]() |
| Anak-anak berunjuk rasa menyuarakan wabah yang melanda teman-teman mereka | REUTERS |
Penyakit meningo encephalitis atau radang otak yang disebarkan oleh nyamuk merenggut nyawa 140 anak di wilayah Hyderabad, India. Di wilayah Andra Pradesh, lebih dari 200 lainnya juga terserang penyakit serupa dalam dua bulan terakhir.
Radang otak umumnya menyerang anak-anak yang kekurangan gizi. Di India, anak-anak itu kebanyakan berasal dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi. Banyak di antara penderita penyakit ini meninggal karena tak dapat dibawa ke rumah sakit. Gejala awal encephalitis adalah demam tinggi, disusul muntah darah dan koma.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, encephalitis adalah satu di antara sekian banyak penyakit endemik di Asia. Ada 50 ribu kasus yang tercatat dalam setiap tahun. Angka kematiannya mencapai 10 ribu orang.
Hingga kini belum ada pengobatan yang tepat bagi penderita penyakit ini. Para dokter hanya mampu mengantisipasi gejala yang diderita. Caranya dengan memberikan vaksinasi secara masal pada setiap orang.(ULF/Yumi Uriana)
“Sebagian besar korban mengalami penurunan glukosa dalam darah secara tiba-tiba,” ungkap petugas kesehatan Ashok Kumar Sing, dilansir Al Jazeera.
Wabah ini terjadi setiap tahun saat musim panas di sejumlah distrik sejak 1995, yang biasanya bertepatan dengan musim buah leci. Beberapa tahun silam, para peneliti Amerika Serikat (AS) menyatakan penyakit otak dapat terkait dengan zat racun dalam buah.
Para peneliti menyatakan lebih banyak penelitian perlu dilakukan untuk mengungkap penyebab penyakit itu. Virus itu mengakibatkan perubahan kondisi mental dan kematian dalam lebih sepertiga kasus infeksi.
Tayangan televisi menunjukkan para pasien yang sakit dan orang tua mereka menemani di sampingnya. Seorang dokter menjelaskan, SKMCH mengalami kekurangan peralatan untuk menangani banyaknya pasien yang datang yang sebagian besar sudah dalam kondisi setengah sadar.
Penyakit itu oleh warga lokal disebut Chamki Bukhar dan telah menewaskan 150 orang pada 2014.
Wabah penyakit saraf ini juga ditemukan di wilayah kebun leci di Bangladesh dan Vietnam.
Negara bagian Bihar juga mengalami suhu panas sekitar 45 derajat Celsius selama beberapa hari. Otoritas menerapkan kebijakan pembatasan keluar ruangan untuk mencegah korban jiwa lebih banyak.
Sumber:Akurat.co / Liputan6.com

Komentar
Posting Komentar