Laman Pornografi Anak Terbongkar, 337 Pengguna di 38 Negara Ditangkap

Image
Ilustrasi pengoperasian laman jaringan gelap | BBC

 Lebih dari 300 orang ditangkap, menyusul terbongkarnya salah satu jaringan gelap pornografi anak terbesar di dunia maya. Ada lebih dari 200 ribu video di laman tersebut dan sudah diunduh jutaan kali oleh para penggunanya. Dilansir dari BBC, meski laman itu ditutup tahun lalu, otoritas mengungkapkan pada Rabu (16/10) ada 337 orang di 38 negara telah ditangkap lantaran diduga sebagai penggunanya.

Menurut Badan Kejahatan Nasional Inggris, penangkapan itu di antaranya terjadi di Inggris, Irlandia, Amerika Serikat (AS), Korea Selatan, Jerman, Spanyol, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Ceko, dan Kanada.

Sementara itu, pemilik laman tersebut, Jong Woo-son, yang berasal dari Korea Selatan dijatuhi 9 dakwaan oleh otoritas Amerika Serikat (AS) dan saat ini sedang mendekam di penjara.

Laman pornografi anak itu bernama "Welcome to Video" dan dioperasikan dari Korea Selatan. Ada lebih dari 8 terabyte konten berisi pelecehan anak, setara dengan ratusan bahkan ribuan jam rekaman video.

Menurut jaksa, laman itu menawarkan video aksi seks yang melibatkan anak-anak, bayi, dan balita. Penggunanya pun diminta tak mengunggah video pornografi dewasa. Videonya pun dijual menggunakan mata uang kripto, bitcoin.

Namun, setelah 3 tahun beroperasi, keberadaannya terungkap saat otoritas Inggris menyelidiki kasus Matthew Falder, pedofilia yang dipenjara 25 tahun ini pun menyebutkan keberadaan laman gelap ini.

Selain itu, Inggris juga menangkap 7 pelaku pelecehan anak-anak lainnya yang berhasil terdeteksi lewat transaksi mata uang kripto mereka.

Sontak laman ini ditutup oleh intelijen khusus gabungan dari Inggris, AS, Korea Selatan, dan Jerman. Sekitar 23 anak-anak pun berhasil diselamatkan dari pelecehan aktif. Tim intelijen khusus ini kini masih melacak keberadaan anak-anak lainnya yang terlihat di video.

"Jaringan gelap pelecehan anak-anak tak bisa bersembunyi dari hukum. Mereka tidak selicin dan seaman yang mereka kira," ungkap Nikki Hollan, Kepala Investigasi Badan Kejahatan Nasional Inggris.

Komentar