Rindu Mata Uang, Insinyur Muda Desain Ulang Pound Palestina

Image
Seorang insinyur muda Palestina meluncurkan inisiatif untuk “menghidupkan” kembali mata uang pound Palestina dengan cara-cara kontemporer, yaitu meniru desain mata uang kertas pada umumnya dan menambahkan simbol peristiwa bersejarah serta sosok terhormat bangsa tersebut. | Xinhua

 Seorang insinyur muda Palestina meluncurkan inisiatif untuk “menghidupkan” kembali mata uang pound Palestina dengan cara-cara kontemporer, yaitu meniru desain mata uang kertas pada umumnya dan menambahkan simbol peristiwa bersejarah serta sosok terhormat bangsa tersebut.

Perkenalkan, Jihad Najji (29) asal Gaza, menjadi individu yang memprakarsai pound Palestina yang peredarannya terhenti sejak invasi Israel pada 1948 silam.

Najji yang berlatar belakang teknik komputer dan berprofesi sebagai perancang elektronik di Gaza menyebutkan melalui laman Xinhua bahwasanya selama ini, dirinya mencari proyek baru yang dapat membuatnya berbeda dan istimewa dibanding orang lain, hingga akhirnya sampai pada ide menghidupkan kembali mata uang lama pound Palestina.

"Gagasan ini muncul secara kebetulan pada akhir 2017 lalu ketika saya bertemu dengan seorang kawan asal Inggris dan kami berdebat perihal kenapa Palestina tidak punya mata uang finansial dan kenapa pound Palestina lenyap," ujarnya.

Hal yang menggugah kreativitas Najji adalah karena rakyat Palestina tidak memiliki mata uang mandiri dan mereka bergantung pada tiga jenis mata uang berbeda, yaitu shekel Israel, dolar Amerika Serikat dan dinar Yordania.

"Mata uang nasional dianggap sebagai salah satu asas paling penting dalam masyarakat mana pun karena itu adalah simbol kedaulatan, dan identifikasi atas simbol-simbol terkenal dan tonggak sejarah yang disematkan pada sebuah mata uang membantu saya coba memulai," ujar Najji.

Dirinya memilih lima tokoh simbolis dan historis ternama dalam bidang politik dan seni, termasuk almarhum pemimpin Palestina Yasser Arafat yang terkenal dengan Kuffiyah hitam-putihnya.

Sang insinyur muda juga menjatuhkan pilihan pada gambar almarhum penyair Palestina Mahmoud Darwish, kartunis tersohor Palestina Naji al-Ali serta beberapa figur lainnya.

Sementara itu, beberapa tonggak sejarah yang dipilih Najji untuk desain pound tersebut termasuk Kubah Shakhrah dan Masjid Al-Aqsa di Kota Lama Yerusalem (Baitul Maqdis), Istana Hisham di Jericho, Gua Makhpela di Hebron dan Gereja Kelahiran Kristus di Betlehem.

"Menilik jejak historis pada desain mata uang nasional mencerminkan identitas perjuangan, sejarah dan definisi Palestina serta simbol-simbol di wilayah Palestina maupun di luar wilayah Palestina," tutur Najji.

Adapun dalam proyek ini, ia fokus pada sisi artistik “berjuluk Dream Project,” yang seolah mengingatkan betapa terus berulangnya perdebatan lama di kalangan Palestina terkait absennya mata uang mereka sendiri.

Menurut para pakar Palestina, shekel Israel menyumbang lebih dari 80 persen perdagangan di pasar Palestina-Israel. Sedangkan sisanya adalah dolar AS dan dinar Yordania, terutama dalam kaitannya dengan penjualan properti tak bergerak seperti tanah, real estat dan terkadang pinjaman dari bank lokal.

Pejabat Palestina telah berulang kali mengeluh bahwa melanjutkan negosiasi dengan mengandalkan shekel Israel ibarat merusak upaya pengembangan ekonomi sendiri dan penghalang kemerdekaan.

Samir Abdulla, mantan menteri Otoritas Palestina yang juga seorang ekonom, mengatakan kepada Xinhua "menerbitkan mata uang Palestina adalah kebutuhan mendesak karena terkait dengan realisasi kedaulatan dan pembentukan negara merdeka Palestina."

"Ketika mata uang Palestina diterbitkan, kita dapat memengaruhi peningkatan pertumbuhan ekonomi secara positif dan mengembangkan kebijakan yang akan menstimulasi ekonomi moneter sesuai dengan penggunaan kebijakan moneter rasional yang akan mengembangkan ekonomi Palestina," lanjut Abdulla.

Menurut Abdulla, upaya menerbitkan mata uang maupun mengembangkan ekonomi Palestina akan berbuah penolakan Israel. Ia meyakini bahwa mata uang Palestina tidak akan mendapat titik terang sebelum hadirnya pengakuan internasional atas negara Palestina dan implementasinya.

Selain faktor sulitnya menentukan mata uang nasional dan peluang untuk menghidupkan kembali pound Palestina di masa depan, Najji berharap desainnya akan menjadi "dokumen yang menceritakan sejarah Palestina.

Komentar