Kurs Rupiah Terserang Virus Corona Lagi

Image
Petugas menghitung uang rupiah di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (27/11/2019). Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan pajak dari Januari hingga Oktober 2019 hanya tumbuh 0,23 persen menjadi Rp1.018,47 triliun atau 64,56 persen dari target APBN 2019 sebesar Rp1.577 triliun. Salah satu penyebab melambatnya penerimaan pajak tersebut, karena nilai tukar rupiah terhadap dolar AS rata-rata sejak awal tahun ada di Rp14.162, dengan asumsi di APBN 2019 sebesar Rp15.000. | AKURAT.CO/Endra Prakoso

  Nilai Tukar Rupiah pada awal perdagangan awal pekan (3/2/2020) melemah 0,3% atau 53 poin ke Rp13.708 per satu dollar AS di pasar spot. Untuk pasar Bank Indonesia (BI), Rupiah melemah 0,4% atau 64 poin ke Rp13.726.

Analis pasar uang PT Platon Niaga Berjangka, Lukman Leong menilai melemahnya Rupiah dipasar spot dipengaruhi oleh wait and see sentimen pasar. 

"Rupiah diperkirakan masih akan tertekan, pasar cenderung wait and see," kata Lukman kepada Akurat.co.

Namun, menurutnya, paska The Fed tidak akan menurunkan Suku Bunga sementara ini, Rupiah diperkirakan masih akan menguat.

Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai pelemahan ini dipicu oleh Virus Corona.

"Kabar bertambahnya penyebaran Virus Corona di China dan global memicu kembalinya kekhawatiran pasar sehingga harga aset-aset berisiko mengalami penurunan," kata Ariston kepada Akurat.co.

Corona menjadi bahaya karena perekonomian China bisa melambat dan bisa turut melambatkan laju pertumbuhan ekonomi global.

Meski begitu, pagi ini Bank Sentral China melakukan stimulus dengan menyuntikan dana ke pasar repo sebesar 1,2 Triliun yuan.

Kebijakan Ini bisa menahan laju penurunan aset berisiko dan penurunan yield obligasi pemerintah AS, yang sekarang berada di kisaran 1,5%, juga bisa menahan laju penguatan dollar terhadap Mata Uang emerging markets.

Untuk itu, Rupiah hari ini berpotensi berada di Rp13.630-Rp13.680.

Direktur riset dan investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico menilai pelemahan ini dipicu oleh pergerakan teknikal.

"Secara teknikal Analisa, kami melihat besar potensi pasar obligasi untuk mengalami penurunan. Oleh sebab itu, apabila masih ada diposisi saat ini, jual merupakan pilihan yang baik. Apabila terjadi rebound pun, merupakan salah satu moment terbaik untuk menjual," kata Nico.

Direktur riset Centre of Reform on the Economics (CORE) Piter Abdullah Redjalam menilai pelemahan Rupiah dipicu oleh kekhawatiran wabah Corona.

"Melemahnya Rupiah utamanya karena semakin meningkatnya kekhawatiran akan Virus Corona," kata Piter saat dihubungi

Komentar