![]() |
| Ilustrasi MSG | National Geographic |
Ketika mendengar kata MSG, salah satu ingatan yang melekat di sebagian orang sampai saat ini adalah "generasi micin" yang dikait-kaitkan dengan orang yang lemot atau bodoh.
Pernyataan tersebut juga menjadi pertanyaan besar bagi banyak orang, adakah hubungannya konsumsi micin atau Vetsin dengan tingkat Kebodohan?
Ketua Umum PDGKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia), Prof. DR. Dr. Nurpudji A. Taslim, MPH, Sp.GK(K), mengatakan, bahwa konsumsi MSG tidak ada hubungannya dengan Kebodohan.
"Anak jadi bodoh itu banyak faktor, misal kalau sejak lahir, sejak di dalam kandungan, anak itu lahir dengan kurang berat badannya, kurang gizi. Itu bisa pertumbuhan otaknya terganggu," kata Profesor Pudji, kepada AkuratHealth, di bilangan Kebayoran, Jaksel, Rabu (6/2).
Menurut Profesor Pudji, usia dua tahun anak pertumbuhan otaknya sudah sebesar 80 persen dari otak orang dewasa. Jadi semakin banyak sel otaknya, anaknya semakin cerdas. Tapi kalau kurang gizi pada saat itu, akan kurang kemampuan berpikirnya, bukan dari MSG.
Dalam kesempatan yang sama, DR med. Dr. Maya Surjadjaja M Gizi, Sp GK , FAAMFM, Dokter dan Ahli Nutrisi, mengatakan secara ilmiah MSG bikin lemot tidak ada penjelasannya.
"kalau memang bikin bodoh lihat orang Jepang gak bodoh bodoh ya kenyataannya. Mereka makan lebih banyak dari Kita orang Indonesia, konsumsinya tiga kali lipat dari Kita. Tapi kalau dilihat gak bodoh-bodoh kan," ujar dokter Maya.
Sedangkan menurut Prof. Dr. Ali Khomsan, MS, saat dihubungi mengatakan, MSG dikaitkan dengan bodoh karena efeknya bisa bikin kepala kliyengan, sensasi seperti melayang, berputar, jika MSG dikonsumsi kebanyakan dan akhirnya membuat susah untuk berpikir.
"WHO menyatakan MSG itu aman dikonsumsi tapi tidak ada data yang menyebutkan batasan takaran pastinya. Tapi untuk orang hipertensi tidak diperbolehkan banyak atau dibatasi karena memperburuk. Intinya jangan kebanyakan aja," tutup Profesor Ali.
Sumber: https://akurat.co/

Komentar
Posting Komentar